TUBABA Lampung.sumselnews.co.id | Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Tiyuh Makarti Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat (TUBABA), di duga menjadi ajang pungli diwilayah setempat.
Diketahui, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) adalah bantuan sosial pangan dalam bentuk non tunai dari pemerintah yang diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) setiap bulannya melalui mekanisme akun elektronik yang digunakan hanya untuk membeli bahan pangan di pedagang bahan pangan/e-warong yang bekerjasama dengan bank.
Namun sangat disayangkan, hal tersebut menjadi kesempatan bagi oknum untuk mengambil keuntungan dari setiap KPM.
Kemungkinan kesempatan tersebut tercipta karena kurangnya pengawasan dari pendamping dan pihak Dinas Sosial Tubaba sehingga penyaluran BPNT di duga menjadi ajang pungli dengan mengurangi isi sembako dan memberi uang Rp.10000 rupiah dari per- satu karung beras.
Salah satu warga Tiyuh Makarti Yuswanto mengungkapkan bahwa, dirinya mendapatkan sembako bulan lalu mendapat 6 karung beras, 3 karpet telor (90 butir telor), jeruk, kentang dan lainnya.
“Kalau dapat 6 karung kasih uang 60 ribu. Ini untuk upah katanya kalau dapat 6 karung 60 ribu kalau 3 karung 30 ribu,” ungkap Yuswanto salah satu penerima BPNT.
Terpisah, Marto Rejo didampingi anak kandungnya Tina mengatakan hal yang sama bahwa dirinya mendapat 4 karung beras dan memberikan 40 ribu rupiah kepada Atun.
“Per-sak 5 ribu, 5 ribu nya tempat geseknya (Kata Atun kepada Tina),” jelas Tina.
Selanjutnya, Saripah juga mengatakan bahwa, dirinya mendapatkan sembako berupa
6 sak beras, telor 3 karpet (90 butir telor), kacang hijau, dan jeruk.
“Saya sama kayak gitu juga, kalau buat gesean 5 ribu, buat ongkos dia jalan-jalan 5 ribu,” terang Saripah.
Sedangkan Atun yang ditugaskan pemilik e-warung (Gunawan) untuk membantu mendata penerima BPNT diwilayah setempat menjelaskan bahwa, yang mendata ada 3 orang dengan berbagi tempat pendataan diwilayah tersebut.
“10 ribu dibagi dua dengan tempat menggesek atm 5 ribu. E-warung (Gunawan) mendapatkan 5 ribu dari setiap KPM,” jelas Atun yang menerima uang Rp.10.000 ribu rupiah dari setiap KPM diwilayah setempat.
Sementara itu, saat ditemui dikediamannya Gunawan selaku pemilik e-warung di Tiyuh Makarti mengelak saat dikomfirmasi terkait uang 5 ribu rupiah yang diberikan Atun kepadanya.
“Tidak ada seperti itu,” cetusnya.
Kemudian saat dihadirkan Atun dikediamannya (Gunawan), Gunawan menyalahkan Atun atas keterangannya kepada awak media.
“Sampean ngasih keterangan seperti itu kayak gimana,” pungkasnya.
Diketahui, KPM ditiyuh Makarti sebanyak 280 KPM, 200 KPM yang lama 80 KPM yang baru. Sementara saat awak media meminta keterangan kepada KPM BPNT ditemani oleh aparatur tiyuh Makarti (RK), Sementara Dimas sosial Tubaba belum berhasil di konfirmasi terkait hal tersebut.
( Rls/madi)






