Tangerang Selatan, 5 Juni 2025 – Puluhan karyawan PT. Jaya Swarsa Agung (PT. JSA), sebuah perusahaan yang berlokasi di Jalan Raya Legok Parung Panjang No. 68, Kecamatan Legok, Tangerang Selatan Banten, melakukan aksi mogok kerja pada hari ini sebagai bentuk protes atas keterlambatan pembayaran gaji selama tiga bulan terakhir. Aksi dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan menyebabkan seluruh aktivitas perusahaan terhenti.
Sekitar 40-an karyawan berkumpul di halaman depan perusahaan dengan membawa spanduk dan poster berisi tuntutan pembayaran hak mereka. Meski suasana di lokasi berlangsung tegang, aksi tetap berjalan tertib dan dalam pengawasan pihak keamanan.
Perwakilan karyawan yang diinisialkan IG menyatakan kekecewaan atas kebijakan manajemen. “Kami sudah bekerja keras, bahkan lembur, tapi tiga bulan ini kami tak digaji. Kami harus membayar listrik, sewa rumah, sekolah anak. Hidup kami sangat terganggu,” ujarnya.
Salah satu karyawan, Yuni (34), mengungkapkan bagaimana keterlambatan gaji telah mempengaruhi kondisi keluarganya. “Saya punya dua anak sekolah. SPP sudah nunggak dua bulan. Saya bahkan terpaksa pinjam uang ke rentenir untuk beli susu anak,” ujarnya sambil menahan tangis.
Senada dengan Yuni, Dani (29), operator mesin, mengaku saat ini bertahan hidup dengan utang dari warung tetangga. “Kalau ditanya makan dari mana, ya utang. Pemilik warung baik, tapi saya juga nggak enak karena belum bisa bayar.”
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT. JSA belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi mogok tersebut. Perwakilan karyawan menyatakan bahwa upaya mediasi masih terus dilakukan. “Kami masih berharap ada jalan tengah. Tapi kalau tidak juga dibayar, kami akan lanjutkan dengan aksi demonstrasi yang lebih besar,” tegas IG.
Ketua LSM HARIMAU PAC Legok, Bapak Pantun Siagian, turut hadir di lokasi dan menyatakan keprihatinannya. “Kami sangat menyayangkan tindakan perusahaan yang lalai terhadap kewajibannya. Ini menyangkut hajat hidup banyak orang,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas. “Kami tidak akan tinggal diam. Hak buruh adalah harga mati,” tegasnya.
Aksi ini menjadi cerminan krisis ketenagakerjaan yang masih marak di berbagai sektor industri. Ketika hak dasar seperti upah tidak terpenuhi, stabilitas sosial dan ekonomi pun ikut terancam.
(Tim publikasi)






