TULANG BAWANG BARAT LAMPUNG.SUMSELNEWS.CO.ID | Penerangan jalan di Tiyuh Karta Raya, Kecamatan Tulang Bawang Udik (TBU), Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, dikeluhkan warga. Pasalnya, proyek lampu tenaga surya yang menggunakan Dana Desa (DD) tahap pertama tahun 2025 dinilai tidak memberi dampak maksimal.
Sebanyak 21 titik lampu telah terpasang menggunakan anggaran desa, namun hasilnya dianggap jauh dari harapan. Cahaya yang dihasilkan sangat redup dan masih menyisakan banyak area yang gelap gulita. Warga pun merasa kecewa dan mempertanyakan kualitas proyek tersebut.
“Kalau malam, tetap saja gelap. Lampunya cuma nyala samar, tidak cukup membantu. Kami kecewa karena ini pakai dana desa,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Dugaan pun mulai mengarah pada berbagai kemungkinan penyebab. Mulai dari kualitas lampu yang dinilai rendah hingga instalasi teknis yang diduga tidak dilakukan secara profesional. Banyak warga meyakini bahwa komponen yang digunakan tidak sesuai standar, sehingga daya tahan dan efisiensinya rendah.
Selain itu, kondisi cuaca memang bisa mempengaruhi kinerja panel surya, namun warga menilai itu bukan alasan utama. Bahkan saat cuaca cerah, banyak lampu yang tetap tidak menyala dengan baik.
Persoalan lain juga mengarah pada kapasitas baterai yang dianggap tidak mencukupi untuk menyuplai energi selama malam hari. Kondisi ini semakin memperkuat dugaan adanya kejanggalan dalam proses pengadaan.
Yang lebih mengkhawatirkan, muncul pula isu dugaan mark-up harga dan penggunaan komponen murah demi meraup keuntungan pribadi oleh oknum tertentu. Warga berharap agar pemerintah tiyuh tidak tinggal diam dan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek ini.
“Harus ada tindak lanjut. Jangan hanya dipasang lalu dibiarkan begitu saja. Ini menggunakan uang rakyat. Perlu pengecekan berkala dan perawatan rutin agar lampunya benar-benar bisa bermanfaat,” tambah warga lainnya.
Keluhan ini diamini oleh Sekretaris Tiyuh Karta Raya, Beni. Ia mengakui bahwa pencahayaan lampu tidak maksimal karena ukuran panel surya yang digunakan memang tergolong kecil.
“Kami akui memang kurang terang, karena ukuran panelnya kecil. Itu jadi kendala,” ungkapnya.
Beni menjelaskan pengadaan lampu jalan tersebut, dari Dana Desa (DD) tahun 2025 tahap pertama dengan anggaran sebesar Rp. 57 juta rupiah.
“Dengan estimasi biaya per titik mencapai Rp.2,7 juta lebih per tiang.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Kepala tiyuh terkait keluhan ini. Namun masyarakat berharap persoalan ini tak diabaikan, dan menjadi pembelajaran agar pengelolaan dana desa kedepan bisa lebih transparan dan tepat sasaran. (Madi)






