SUMSELSELNEWS.CO.ID | Di tengah derasnya arus modernisasi, ada yang tak sedari menjadi penopang hidup masyarakatnya. Di sebuah pemukiman kecil di sekitar Sungai Musi, Palembang, Siti Rahayu (45) menemukan bahwa kebiasaan sehari-harinya memotong kuku justru menjadi titik balik bagian dia untuk kembali pada kehidupan yang lebih bermakna.
Keputusan untuk mencoba menganyam bambu bukan lahir dari hasrat artistik semata. Ia tak pernah sekolah seni rupa, tak pernah ikut pelatihan khusus. Tapi ketika istrinya mengatakan bahwa bambu di belakang rumah mulai membusuk karena tak dipakai lagi, Siti merasa ada yang salah. Bambu itu dulu kerap dipotong tetangga untuk dibuat berbagai keperluan rumah tangga. Kini semua sudah beralih ke material modern: plastik, aluminium, minyak kayu.
“Aku hanya ingin mencoba. Kalau ternyata kurang cocok, nanti saja kutumpuk,” ucapnya sambil tersenyum lepas. Itu adalah pembukaan awal dari cerita yang kini membuat banyak orang di Sumatra Selatan kembali melirik ke tradisi yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Lokasi Strategis di Tengah Kemajuan
Palembang, sebagai ibukota provinsi Sumatera Selatan, memang tumbuh pesat. Bangunan menara kaca menjulang tinggi, mal-mal menggeram di pusat kota, dan kendaraan modern menambah kebisingan. Namun di sisi lain, banyak para pedagang kaki lima tetap eksis di sepanjang jalan, dan banyak juga rumah warga yang masih mempertahankan atap dari sumber daya alam.
“Banyak yang bilang mau belajar nganyam tapi takut ribet. Kami tidak memaksa. Yang penting minat ada. Kalau ada kehendak, insya Allah kami bimbing dengan ikhlas,” tambah Siti, yang kini sudah menjadi salah satu figur kunci dalam gerakan pelestarian anyaman bambu lokal.
Masa Depan yang Terkendali
Ketika bicara tentang masa depan, ia tidak menggunakan bahasa penuh hiasan. Ia menjelaskan dengan cara yang mudah dimengerti. Ia berbicara tentang generasi muda di sekolah menengah pertama (SMP) yang mulai tertarik melihat-lihat proses pembuatan anyaman di workshop-nya. Tiga di antaranya bahkan sudah mulai membuat keranjang kecil untuk dipamerkan pada pameran sekolah.
“Kita tidak ingin mereka jadi ahli bambu jika bukan passion. Tapi setidaknya mereka tahu bahwa bambu bukan sekadar tumbuhan di pinggir jalan. Ia punya nilai lebih,” jelas Siti. Ia punya harapan bahwa suatu hari nanti, ketika muncul orang baru yang peduli pada keberlangsungan ini, mereka bisa belajar bersama di sini.
Inisiatif Komunitas yang Terkoordinasi
Siti bukan bekerja sendirian. Ia menjadi bagian dari kelompok ibu-ibu yang terorganisir di lingkungan setempat. Mereka rutin bertemu setiap dua minggu sekali, membahas tantangan dan solusi. Beberapa di antara mereka menguasai teknik menyambung bambu, sementara yang lain mahir membuat ukiran dekoratif di atas permukaan anyaman.
“Kami saling belajar. Siti membuka jalan, tapi semangat kami adalah bersama-sama. Kalau ada yang lebih baik, kami dukung,” ungkap Ibu Marni (48), salah satu anggota kelompok. Ia sendiri dulu pegawai kantoran yang kini pensiun dan lebih memilih mengisi waktunya dengan aktivitas kreatif seperti ini.
Membangun Jaringan Pasar yang Luas
Di awal tahun ini, usaha Siti mendapat dukungan tak terduga. Seorang influencer lokal yang sedang membuat konten tentang UMKM palembang mengunjungi workshop-nya tanpa persiapan sebelumnya. Ia hanya penasaran melihat aktivitas anak-anak SMP di rumahnya yang membawa keranjang anyaman bambu sebagai barang koleksi mereka.
“Awalnya aku pikir ini hanya biasa-biasa. Tapi ketika melihat prosesnya, ternyata sangat menarik. Banyak orang di luar sana mungkin belum tahu kalau Palembang punya budaya seperti ini,” kata Rizky (27), si influencer. Ia pun memutuskan untuk mengajak Siti dan rekan-rekannya ikut pameran produk di kampusnya.
Kendala yang Dirasakan
Potensi pasar mungkin tak diragukan lagi. Namun tantangan datang dari hulu. Permintaan bambu mentah justru semakin sulit dicari. Penanaman bambu semakin terhambat akibat luas lahan yang terpakai untuk permukiman dan industri.
“Dulu ini dulu ada di sini. Sekarang sudah jarang sekali,” kata Siti sambil menunjuk ke arah semak belukar di pinggir sungai. Ia berharap pemerintah kota bisa membantu dengan mendirikan kebun bambu khusus untuk keperluan tradisional. Ia juga mendesak agar anak-anak muda di sekolah dasar diajak sering keluar untuk melihat proses pembuatan bambu secara langsung.
Menghadapi Persaingan Global
Siti jujur mengatakan bahwa ia khawatir. Di pasar lokal, harga anyaman bambu yang ia jual berkisar antara Rp. 25.000 hingga Rp. 75.000 tergantung ukuran dan kerincian. Namun baru-baru ini, ia menemukan toko online yang menjual anyaman serupa dari luar negeri dengan harga hampir seperempatnya. Meski belum tentu kualitasnya sefaham, tapi mungkin cukup untuk menggoyahkan pasar lokal yang belum stabil.
“Yang penting kami bisa bertahan dulu. Kalau mereka mau belajar dari kami, kami buka. Kalau mereka ingin belajar sendiri, kami tidak mungkin untuk mencegah. Yang terpenting adalah nilai budaya tetap terjaga,” ujarnya dengan logat santai.
Potensi yang Perlu Dikelola dengan Baik
Meskipun tantangan cukup banyak, Siti optimis. Ia melihat peluang dari keraguan itu sendiri. Ia mengajak rekan-rekannya untuk mengadakan lokakarya terbuka untuk umum tiap akhir pekan. Acara ini gratis, cukup bawa pulang hasil keringnya bambu.
“Ini bukan tentang menghasilkan banyak uang. Ini tentang menumbuhkan rasa cinta pada budaya sendiri,” tambahnya. Ia juga menolak tawaran untuk menggandeng investor besar yang ingin memproduksi massal. Menurutnya, budaya tak akan bertahan kalau hanya dijinjing untuk kepentingan komersial semata.
Menumbuhkan Kesadaran Melalui Pendidikan
Salah satu program utama yang dijalankan Siti dan kelompoknya adalah kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Ia mengajukan agar budaya anyaman bambu menjadi bagian dari program sekolah budaya lokal. Program ini masih terbatas di tiga sekolah dasar di sekitar kawasannya saja, tapi ia berharap bisa berkembang ke wilayah lain.
“Kita ingin anak-anak tahu bahwa budaya tidak lepas dari kehidupan sehari-hari. Bambu bukan cuma menjadi pagar atau anyaman saja. Ia bisa menjadi simbol identitas kota,” jelas Siti. Ia juga memberikan contoh nyata saat sedang menganyam bambu bersama anak-anak SDN 12 Palembang. Mereka tidak hanya diajari teknik, tapi juga nilai filosofis di balik setiap bentukan anyaman.
Menghubungkan Budaya dengan Kemodernan
Banyak yang menilai usaha tradisional seperti ini tidak akan bertahan lama. Tapi Siti justru melihat peluang itu sebagai tantangan untuk berinovasi. Ia mulai bereksperimen dengan warna alami dari daun mengkulam dan mengkulam untuk mempercantik anyaman-annyanya.
“Kami tidak menutup diri dari perubahan. Kami hanya ingin agar perubahan itu tidak menghilangkan esensi budaya. Warna itu hanya pelengkap. Bentuknya tetap khas Palembang,” tambahnya. Ia punya harapan bahwa kedekatan antara budaya lokal dan modernitas bisa menciptakan nilai baru yang tetap bernuansa.
Komitmen pada Kesetabilan Finansial
Bagi banyak pihak, usaha seni tradisional sering dianggap tidak menjanjikan kemakmuran. Namun Siti justru tidak mengklaim ini sebagai sumber utama penghasilan. Ia tetap menekankan bahwa tujuan utama adalah pelestarian budaya, bukan mengejar keuntungan finansial.
“Kalau ada yang order, tentu kami senang. Tapi jika tidak ada order, kami tetap akan melanjutkan. Yang penting nilai budaya ini tidak sampai mengakhir,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa ia masih menyertakan jasa menganyam bambu sebagai penambahan penghasilan sampingan, sementara pekerjaan utamanya tetap di bidang lain.
Menyamakan Visi dengan Generasi Muda
Ketika ditanya tentang masa depan usahanya, Siti menjawab singkat: “Visi kami simpel: budaya tetap hidup. Siapa yang akan melanjutkannya? Semoga generasi muda sadar akan nilai ini.” Ia menambahkan bahwa tujuannya bukan untuk membuat semua orang menjadi pengusaha anyaman bambu, melainkan agar mereka sadar akan pentingnya budaya sebagai bagian dari identitas diri.
“Kita tidak perlu menjadi ahli untuk bisa menghargai sesuatu,” tambahnya. Ia berharap agar setiap keluarga di Palembang, setidaknya, bisa memiliki satu atau dua helai anyaman bambu sebagai simbol penghormatan pada budaya lokalnya. Karena baginya, budaya tak hanya tentang pameran atau pameran, tapi juga tentang kehadiran yang terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Teknologi dalam Membantu Pelestarian Budaya
Siti mengakui bahwa ia baru mulai memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan usahanya. Ia sering mengunggah foto-foto proses pembuatan anyaman beserta cerita di baliknya. Ia melihat bahwa respons positif justru datang dari kalangan pemuda yang penasaran dengan aktivitas tersebut.
“Kalau dulu kami cuma bisa disaksikan langsung, kini siapa pun bisa melihat melalui layar kecil. Itu jadi kesempatan bagus untuk menyebarluaskan nilai kami,” papar Siti. Ia punya harapan bahwa pemanfaatan teknologi bisa membuka jalan bagi budaya tradisional agar tetap relevan di mata dunia modern.
Mengukir Kesan yang Abadi
Di ujung pekan, kami bertemu lagi dengan Siti di workshop-nya yang sederhana. Ia duduk dipojok lantai dengan berbagai jenis bambu yang sudah diolah menunggu proses selanjutnya. Ada sedikit gedor dari aktivitas menganyam, namun senyumannya tak pernah pudar.
“Ini bukan hanya soal bambu. Ini tentang kita semua. Tanpa kita sadari, budaya sudah mengikuti kita kemana-mana. Kita bisa mengabaikannya, tapi tak akan pernah bisa menghilangkannya,” tutur Siti sambil melanjutkan menganyam satu rangkaian baru. Ia menambahkan bahwa ia bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari usaha yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Di sore itu, ia tak membuat janji besar atau klaim penuh drama. Ia hanya menawarkan keberanian untuk terus belajar, berbagi, dan menghargai sesuatu yang telah lama ada di sekitar kita. Dan mungkin, itulah inti dari cerita yang ia dapat tulis dengan rentang waktu panjangnya tentang usaha menganyam bambu di tengah kota yang tak berhenti berubah.





