Beranda Pesawaran Disorot Berulang, Proyek Irigasi BBWS di Sukadadi Tetap Dikerjakan Saat Air Mengalir

Disorot Berulang, Proyek Irigasi BBWS di Sukadadi Tetap Dikerjakan Saat Air Mengalir

1362
0

PESAWARAN| Pekerjaan Peningkatan dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Utama kewenangan daerah yang dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung di Desa Sukadadi, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, kembali menjadi perhatian publik. Pasalnya, berdasarkan pantauan di lapangan, pekerjaan tersebut diduga masih dilakukan saat aliran air irigasi dalam kondisi mengalir deras, Senin 15/12/2025.

Sejumlah temuan di lokasi menunjukkan pasangan batu dan pekerjaan pondasi tetap dilaksanakan meskipun area kerja tergenang air. Pondasi terlihat tidak melalui proses penggalian yang memadai, sementara batu disusun dan langsung diberi adukan semen di tengah aliran air. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait penerapan standar operasional prosedur (SOP) teknis pekerjaan irigasi.

Dalam praktik konstruksi irigasi, pekerjaan pondasi dan pasangan batu umumnya dilakukan setelah aliran air dikendalikan. Air yang terus mengalir berpotensi memengaruhi daya ikat adukan semen, yang pada akhirnya dapat berdampak pada mutu dan ketahanan bangunan.

Proyek tersebut diketahui memiliki nilai anggaran sekitar Rp 46,9 miliar, bersumber dari APBN melalui SNVT PJPA Tahun Anggaran 2025, dengan pelaksana PT Brantas Abipraya (Persero). Kontrak pekerjaan bernomor HK 0201-06/OPLAH.LPG-III/Bbws2.d1/XI/2025 ditandatangani pada 7 November 2025, dengan masa pelaksanaan 55 hari, mencakup 8 kabupaten dan 33 daerah irigasi, termasuk Kabupaten Pesawaran.

Salah seorang warga setempat berinisial S menyampaikan keprihatinannya terhadap metode kerja yang diterapkan. Ia menilai pengaturan aliran air seharusnya dapat dilakukan sebelum pekerjaan dimulai.

“Setahu saya, aliran air bisa diatur dulu. Misalnya dengan terpal atau bendungan sementara di bagian hulu. Biayanya juga tidak besar. Kalau pekerjaan tetap dilakukan saat air mengalir, saya khawatir hasilnya tidak maksimal,” ujarnya.

Sejumlah praktisi konstruksi irigasi menyebutkan bahwa dalam SOP teknis, pengendalian aliran air merupakan tahapan penting sebelum pekerjaan struktur dilakukan. Beberapa metode yang lazim digunakan antara lain pengalihan aliran sementara (bypass), pembendungan sementara (cofferdam), sistem setengah aliran (half flow system), atau dewatering menggunakan pompa.

Selain aspek teknis, pendekatan sosial kepada petani pengguna air juga dinilai penting agar distribusi air tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas pekerjaan. Apabila tahapan teknis tersebut tidak dilaksanakan secara optimal, dikhawatirkan dapat berdampak pada mutu bangunan, umur teknis konstruksi, hingga potensi kerugian keuangan negara.

Masyarakat berharap pihak terkait, mulai dari PPK, konsultan pengawas, hingga BBWS Mesuji Sekampung, dapat melakukan peninjauan langsung ke lokasi dan memberikan penjelasan terbuka kepada publik.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana proyek maupun BBWS Mesuji Sekampung belum memberikan keterangan resmi terkait metode pekerjaan yang dilakukan di Desa Sukadadi. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan guna memperoleh klarifikasi dan memastikan keberimbangan informasi.

 

Laporan: SUF

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini