TULANG BAWANG BARAT | Lampung.sumselnews.co.id | Pabrik pengolahan ubi kayu, singkong perusahaan swasta PT. Berjaya Tapioka Indonesia (BTI) berdiri dan beroperasi di wilayah Desa Tiyuh Karta Kecamatan Tulangbawang Udik (TBU) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) Provinsi Lampung minimnya dan tidak transparan dalam merealisasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar.
Diketahui setiap bisnis memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat atau lingkungan tempatnya berdiri. Sifat tanggung jawab sosial wajib, dan apabila tidak dilakukan, bisnis terancam terkena sanksi.
Sebelumnya adalah PT. Bumi Tapioka Jaya (BTJ) dengan berjalannya waktu puluhan tahun diganti nama menjadi PT. Berjaya Tapioka Indonesia (BTI) adalah sebuah perusahaan bergerak dibidang industri Tepung Tapioka, yang semata-mata mengandalkan hasil bumi, petani dimana mayoritas masyarakat sekitar memiliki mata pencaharian sebagai petani singkong, dan karet.
Sementara itu, guna mengetahui berapa jumlah besaran dana CSR yang dikeluarkan oleh perusahaan PT. BTI selama perusahaan tersebut berjalan untuk masyarakat sekitar, wartawan media Lampung.sumselnews.co.id mencoba menemui kepala personalia perusahaan PT. BTI, Dwi untuk mempertanyakan dana CSR. Pada, Senin kemarin (25/4/22).
Namun sesampainya awak media di pintu masuk pos satpam bertemu dengan penjagaan keamanan, Santo salah seorang sekuriti di perusahaan mengatakan, bahwa kepala personalia perusahaan, itu belum bisa ditemui alasan karna masih meeting Zoom.
“Iya, perlu apa, pak Dwi ada diruang kerjanya cuma belum bisa dipertemukan karena masih meeting zoom,”ungkapnya Santo salah seorang sekuriti itu, kepada awak media.
Lalu awak media mencoba menghubungi, Dwi komunikasi via WhatsAppnya, diluar sangkaan seorang kepala personalia perusahaan tersebut mengatakan, tidak tau tidak pernah dilibatkan dan bahkan sudah banyak pihak yang menanyakan mengenai CSR.
“Maaf saya tidak punya wewenang menjelaskan dana CSR itu, manajemen dari pusat jakarta langsung. Perlu bapak ketahui, bapak orang yang kesekian kalinya nanya CSR,”ungkapnya.
“Bukan wewenang saya, dan saya bukan pimpinan pabrik, pimpinan ada di jakarta dan di lampung timur,”terangnya kembali tulis
via WhatsApp kepada awak media.
Ditanya siapa pimpinan perusahaan PT. Berjaya Tapioka Indonesia (BTI) dan wartawan minta no hp atau WhatsApp biar bisa komunikasi langsung dengan pimpinannya kapan ia ada di Tubaba.
“Maaf pak kami tidak ada yang berani ngasih no hp nya, bisa bisa priuk kami guling, kalo ada di tubaba tidak ada yang tahu,”kata seorang kepala personalia.
Pernyataan disampaikan oleh pihak perusahaan selaku kepala personalia mengatakan, bahwa tidak tau terkait dana CSR PT. BTI hal tersebut menandakan minimnya realisasi dana CSR.
Terkesan ditutup-tutupi dari masyarakat sekitar selama berdirinya perusahaan sudah puluhan tahun dari PT. BTJ balik nama menjadi PT. BTI.
Berdasarkan peraturan setiap perusahaan wajib menyisihkan dana di keluarkan untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya adapun besaran dana CSR, tidak spesifik atau sesuai kebijakan perusahaan.
Dengan tujuan suatu perusahaan menjalankan program CSR agar perusahaan memiliki citra atau nama baik di mata masyarakat dengan menampilkan bahwa perusahaan adalah pihak yang bertanggung jawab.
Kegiatan yang bisa dijangkau CSR oleh perusahaan antara lain adalah pengembangan UMKM di bidang ekonomi, di bidang kesehatan, program di bidang lingkungan, di bidang pendidikan, dan pembangunan jalan di bidang infrastruktur.
Dalam menjalankan kegiatan CSR, perusahaan tetap perlu melaporkan bagaimana pengelolaan dana saat melakukan program CSR tersebut. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para stakeholder dan transparansi keberlangsungan dari program CSR.
Sedangkan diketahui baru sekali merealisasikan dana CSR, itupun belum lama ini, namun tidak dijelaskan oleh pihak perusahaan berapa jumlah besaran anggaran dana CSR yang digunakan untuk ruas jalan sepanjang kurang lebih setengah kilo meter yang tadinya penuh lubang menganga ditutup dengan batu sabes.
Diberitakan sebelumnya, bahwa
Pemerintah Kecamatan Tulangbawang Udik, Kabupaten Tulangbawang Barat Apresiasi dan ucapkan terimakasihnya kepada pihak Perusahaan singkong PT Bumi Tapioka Indonesia (BTI) setempat, yang bersedia memperbaiki jalan Provinsi di Desa Tiyuh Karta.
Diketahui, Jalan provinsi yang ada ditiyuh Karta.Tepatnya di lokasi Tulung Ketibung kondisinya sangatlah memprihatinkan bahkan sering terjadi kecelakaan karna badan jalannya miring tersebut sulit dilalui terlebih jika musim hujan tiba.
Dikatakan, Iwan Setiawan, SH.,MH, Camat TBU mengucapkan Terimakasih kepada PT. BTI /BTJ Tiyuh Karta atas CSR (Corporate Social Responsibility) yang merupakan Kontribusi nya terhadap sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Mewakili masyarakat TBU, khsusnya warga tiyuh Karta dan sekitarnya mengucapkan Terimakasih kepada pihak PT.BTI yang mana kiranya telah berpartisipasi terhadap akses perekonomian masyarakat setempat sehingga akses jalan yang kita ketahui sulit dilalui kini sudah layak dilalui,” Ungkap Iwan melalui pesan WhatsApp, Kamis (16/9/2021).
Untuk itu, Lanjutnya, dengan diperbaiki jalan ini tentunya dirinya menyampaikan harapan masyarakat bahwa besar harapan terhadap Pemerintah Provinsi Lampung untuk segera dapat memperbaiki jalan ini. Mengingat jalan ini adalah akses penghubung antar tiyuh,”Harap Iwan Setiawan.
Terpisah, Suhendra perwakilan perusahaan menjelaskan.
Perbaikan jalan ini menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR). yang mana merupakan salah satu Program perusahaan untuk membantu masyarakat sekitar.
“Ya, alhamdulilah melalui program CSR kali ini perusahaan fokus memperbaiki jalan provinsi yang ada di tiyuh Karta.
Mudah-mudahan dapat bermanfaat,”Singkatnya.
Sementara, Ridwan, Masyarakat Tiyuh Karta menyambut baik adanya program perbaikan jalan ini. Sehingga jalan yang diketahui milik provinsi lampung ini jikala hujan sulit dilalui.
“Kami masyarakat ucapkan terimakasih kepada pihak yang berkenan memperbaiki jalan ini, mudah-mudahan jalan ini dapat segera diperbaiki sehingga masyarakat yang melintasinya tidak was-was,”Harapnya.
Wartawan media akan terus dalami dugaan penyimpangan aliran dana CSR perusahaan, berapa jumlah besaran dana CSR yang sudah di keluarkan oleh pihak perusahaan selama puluhan tahun. Jika anggaran sudah di keluarkan oleh pihak perusahaan PT. BTI (Berjaya Tapioka Indonesia), lalu direalisasikan untuk apa saja dana-dana tersebut. (Madi)






